Cerita Tentang Kuliah Kerja Nyata-ku (1)

Fikri Aly Azmi
4 min readOct 27, 2020

Dari segala kegiatan perkulihanan selama ini, menurut saya tidak ada yang lebih berat, selain mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Penulis akui itu, dan berusaha jujur untuk menjelaskan. Perkuliahan yang selama ini penulis pelajari di bangku perkuliahan, seolah-olah masih belum seberapa, dibandingkan dengan terjun dan berusaha untuk berbaur dengan masyarakat. Sehingga sebuah pelajaran penting perlu untuk diungkap, bahwa sepintar apapun kalian dalam kelas, itu tidak menjamin bahwa kalian juga pandai dalam bermasyarakat.

Tidak elok rasanya, bila cerita Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak dicoba untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Maka dengan bermodal semangat dalam belajar untuk menulis, coretan sederhana kali ini mencoba untuk hadir, menemani para sidang pembaca mengisi waktu, dengan harapan agar kalian semua dapat memetik secuil pelajaran di kemudian hari. Dan tak lupa, kritikan maupun saran yang pedas sekalipun, penulis tunggu demi upaya penulis dalam menyajikan sebuah karya yang bermutu kelak.

Mengawali kisah kali ini, penulis perlu untuk berkata jujur kepada kalian semua bahwa penulis terkadang memiliki sebuah kesulitan dalam bersosialisasi dengan masyarakat, terlebih bila sebelumnya penulis baru kenal. Pengakuan ini perlu untuk penulis utarakan, agar kemudian kalian bisa memahami bagaimana kemudian cerita ini akan terbawa.

Setidaknya butuh waktu beberapa saat ataupun pancingan topik kesukaan penulis untuk setidaknya bisa mencair maupun hanyut dalam sebuah obrolan maupun interaksi. Pengetahuan semacam itu, memang terlihat sederhana. Tapi penting untuk kalian selalu ingat dan perlu kalian hujamkan dalam benak kalian, kesulitan tidaklah disamaartikan dengan kebencian. Artinya bila kemudian kalian menemui seseorang di luar sana, memiliki kemiripan dengan yang penulis rasakan. Tolong tetap perlakukan kami dengan baik. Beri kami sedikit uluran waktu, untuk menyesuaikan diri dengan kalian semua. Pelajaran semacam ini, perlu untuk disebarluaskan dengan repetisi yang tiada pernah henti. Terlebih bila dalam konteks KKN. Barangkali mungkin ada diantara teman sekolompok memiliki kepribadian yang kurang lebih sama dengan penulis atau bahkan mungkin dari salah satu masyarakatnya memiliki hal yang serupa.

Barangkali mungkin sebelumnya ke luar konteks, tapi sudahlah. Kembali ke topik pembahasan. Kegiatan ini merupakan salah satu pengalaman pertama bagi penulis. Karena baru pertama kali, pengetahuan penulis mengenai kuliah masyarakat ini juga masih terbilang awam. Hanya cerita-cerita dari kakak tingkat maupun sebuah tautan twitter berjudul KKN di Desa Penari dan pengamatan penulis secara langsung, yang juga masih belum sempurna. Meskipun begitu, setidaknya penulis memberi sebuah kesimpulan sederhana dengan keterbatasan pengetahuan penulis saat ini, bahwa proses ini tidak akan pernah mudah untuk dijalani.

Apa yang dilalui oleh mereka, pada akhirnya juga penulis rasakan. Walaupun dengan bentuk yang sedikit berbeda. Pasalnya, kemunculan pandemi virus korona, turut merombak berbagai aspek multidimensional. Termasuk dalam bidang pendidikan. Pengajaran yang semula menggunakan metode tatap muka, kali ini dengan pertimbangan agar makhluk tak kasatmata ini tidak tertular, pembelajaran dialihkan menggunakan metode daring. Bagaimana dengan Kuliah Kerja Nyata di masa pagebluk ini?, sesuai dengan kebijakan kampus penulis, kegiatan ini tetap diberlakukan. Dengan berbagai catatan yang terkadang membuat penulis senang, namun ada kalanya yang membuat penulis kesal.

Dikatakan turut senang karena penentuan lokasi KKN tidak lagi ditentukan oleh kampus, sehingga para peserta diberi keleluasan untuk bebas memilih di daerah mana mereka akan mengabdi. Kekhawatiran mahasiswa untuk ditempatkan di daerah terpencil, terpelosok, atau bahkan penuh dengan kepercayaan mistis, setidaknya bisa teratasi. Kecuali bagi mereka yang suka atau terpaksa memilih daerah-daerah semacam itu. Penulis sendiri, dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut, tidak perlu berpikir panjang, untuk memutuskan bahwa Banyuwangi sebagai tempat lokasi KKN. Keadaan pandemi yang juga belum mereda, dan masih malasnya untuk pulang ke perantauan, turut membulatkan tekad penulis, untuk memilih kabupaten yang berada di ujung timur pulau Jawa ini sebagai tempat penulis untuk mengabdi.

Hanya saja, kebebasan penulis harus dibayar dengan harga mahal. Bila kita mendengar kegiataan KKN sebelumnya yang dihitung berdasarkan hari, maka untuk tahun ini, para peserta KKN wajib untuk mengumpulkan setidaknya 272 jam masa pengabdian. Berbagai catatan perlu untuk diperhatikan, peserta sehari tidak boleh melebihi delapan jam, kecuali kegiatan insidental (informasi yang penulis dapat dari teman). Bila dihitung secara kasar, kegiatan ini bisa saja selasai selama satu bulan, dengan jumlah 31 hari. Hanya saja dengan ketelebece, mereka selama sebulan itu melakukan proses pengabdian selama delapan jam sehari.

Pengunggahan mereka di log book, tentu saja menimbulkan kecurigaan bagi pembimbing. Terlebih, dalam semester tujuh ini, para peserta KKN juga dihadapkan dengan kegiatan magang bagi mahasiswa non-kependidikan, dan kegiatan praktik kerja lapangan (PKL) untuk mahasiswa kependidikan. Sehingga menurut pembimbing penulis sendiri, dengan segala pertimbangan kondisi yang dihadapai mahasiswa, memperkirakan bahwa kegiatan KKN ini setidaknya untuk ukuran waktu normal membutuhkan waktu dua bulan, dan juga bisa dikatakan lebih.

Bagi penulis sendiri, pada awalnya tidak terlalu peduli dengan masalah jam. Penulis justru masih kebingungan di daerah mana penulis akan mengabdi. Bila menilik daerah tempat tinggal penulis, muncul keraguan. Pasalnya, dengan berbekal seorang diri, apakah sanggup penulis akan melakukannya, belum lagi perasaan malu terhadap tetangga sekitar, juga seringkali terlintas dalam pikiran penulis. Kekhawatiran tersebut, sayangnya oleh penulis tidak cepat untuk mengambil keputusan. Penulis justru berleha-leha menikmati ketenangan yang ada di rumah.

Sampai suatu ketika, teman SMA penulis yang dalam hal ini dipertemukan kembali dalam satu universitas menghubungi penulis untuk menanyakan bagaimana rencana penulis dalam kegiatan KKN. Penulis awalnya hanya menjawab untuk menunggu kabar selanjutnya, karena masih khawatir terjadi keselahpahaman informasi. Ia pun dalam obrolan pertamanya dengan penulis sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan dengan keputusan penulis. Hingga kemudian, beberapa hari berselang, ia kembali menghubungi penulis dengan maksud menawarkan untuk melakukan kegiatan KKN bersama, di sebuah desa bernama Olehsari. Tanpa perlu untuk menunggu menunggu purnama silih kali berganti, penulis menerima tawaran tersebut. Dan ajakan tersebut, merupakan salah satu ajakan yang berusaha akan penulis ingat sampai kapanpun.

Bersambung

--

--

Fikri Aly Azmi

Seseorang yang menyukai aroma turunnya hujan dan buku baru